Sejarah Desa

16 Januari 2026
SYAHRU ROMADHONI
Dibaca 52 Kali
Sejarah Desa

Di ujung barat daya Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, tersembunyi sebuah desa yang menyimpan jejak sejarah panjang dan kaya, Desa Tanjung Medan. Terletak di Kecamatan Muara Sipongi, desa ini telah menyaksikan perjalanan panjang dari masa sebelum kemerdekaan Indonesia hingga era otonomi daerah. Sejarahnya yang unik dan menarik untuk disimak ini tak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga fondasi kuat bagi pembangunan desa di masa depan.

 

Masa Pra-Kemerdekaan dan Kehidupan Awal Masyarakat

Jejak peradaban di Tanjung Medan telah ada jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya. Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini berada di bawah naungan pemerintahan Dewan Rakyat Belanda. Masyarakat Tanjung Medan pada masa itu hidup dalam kesederhanaan, bermukim di sekitar sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka, seperti Ai Lawanei, Ai Tawa Gedak, dan Ai Tawa Kecik.

 

Mayoritas penduduk Tanjung Medan pada masa itu menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Mereka bercocok tanam padi, umbi-umbian, dan tanaman palawija lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupan mereka yang agraris ini terjalin erat dengan alam, membentuk budaya dan tradisi yang khas.

 

Kampuk Molantik, yang kini dikenal sebagai Negeri Tinggal, menjadi pusat permukiman masyarakat Tanjung Medan pada masa itu. Di sinilah denyut nadi kehidupan desa berdenyut, dengan aktivitas pertanian, perdagangan, dan interaksi sosial yang terjalin erat.

 

Bencana Banjir Bandang dan Relokasi Pemukiman

 

Kehidupan tenteram di Kampuk Molantik terusik pada tahun 1952. Banjir bandang yang melanda Sungai Ai Tawa Gedak meluluhlantakkan sebagian besar rumah warga. Bencana ini tidak hanya merenggut harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Tanjung Medan.

 

Pemerintah setempat dengan sigap mengambil tindakan untuk mengevakuasi warga yang terdampak banjir. Mereka diungsikan ke tempat yang lebih aman ke Kampung Pinang, yang terletak di tepian Sungai Batang Gadis, serta daerah di pinggiran jalan Pakantan, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Kampuk Molantik.

 

Setelah bencana mereda, pemerintah menyadari bahwa Kampuk Molantik kurang layak dan aman untuk dihuni. Selain kerusakan yang parah, lokasi permukiman lama juga dianggap rawan terhadap banjir bandang susulan. Oleh karena itu, pemerintah menginisiasi program relokasi permukiman warga Kampuk Molantik ke dataran yang lebih tinggi dan aman di tepi Sungai Batang Gadis, bersebelahan dengan Kampung Pinang.

 

Secara bertahap, satu per satu keluarga mulai membangun kembali rumah mereka di lahan yang baru disediakan. Proses relokasi ini tidak hanya menjadi upaya untuk membangun kembali tempat tinggal, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kembali harapan dan semangat masyarakat Tanjung Medan.

 

Perkembangan Desa dan Perjuangan Pemekaran

 Pada tahun 1953, Kampung Pinang, yang menjadi tempat pengungsian sebagian warga Tanjung Medan, diakui sebagai wilayah otonom di bawah naungan Kecamatan Muara Sipongi. Sabaru menjadi tokoh pemerintahan pertama di kampung ini, yang kemudian digantikan oleh Japamenan, dan terakhir Syafri Pungkut.

 

Pada tahun 1977, status kampung berubah menjadi desa, dan jabatan kepala kampung pun berganti menjadi kepala desa. Tanjung Medan, yang sebelumnya merupakan bagian dari Kampuk Molantik, kini menjadi dusun II di bawah naungan Desa Kampung Pinang. Usman Mandailing menjabat sebagai kepala desa pertama di Desa Kampung Pinang, yang kemudian digantikan oleh Thamrin.

 

Perkembangan Tanjung Medan sebagai dusun terus berlanjut. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan akan pembangunan, muncul aspirasi dari masyarakat Tanjung Medan untuk membentuk desa otonom. Pada tahun 1993, Nemi, seorang tokoh masyarakat dari Tanjung Medan, terpilih menjadi kepala Desa Kampung Pinang. Momentum ini dimanfaatkan oleh Nemi dan tokoh masyarakat lainnya untuk memperjuangkan pemekaran Tanjung Medan menjadi desa otonom.

 

Perjuangan panjang dan melelahkan akhirnya membuahkan hasil. Pada tanggal 28 Agustus 2004, Tanjung Medan resmi melepaskan diri dari Desa Kampung Pinang dan menjadi desa otonom. Nemi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Kampung Pinang, ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kepala Desa Tanjung Medan yang baru terbentuk.

 

Era Otonomi Daerah dan Pembangunan Desa

 Tahun 2005 menjadi tonggak sejarah penting bagi Tanjung Medan. Pada tahun ini, desa ini menggelar pemilihan kepala desa pertama, yang dimenangkan oleh Amaluddin. Di bawah kepemimpinan Amaluddin, Tanjung Medan mulai menata diri dan melaksanakan berbagai program pembangunan.

 

Pada masa pemerintahan Amaluddin, program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) bergulir di Desa Tanjung Medan. Program ini memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai kegiatan pemberdayaan dan pembangunan infrastruktur skala kecil.

 

Pembangunan di Tanjung Medan terus berlanjut di bawah kepemimpinan kepala desa selanjutnya, Amril Manda (2011-2016). Pada periode ini, sektor pendidikan mulai berkembang dengan dibangunnya Madrasah MDTA Hubbul Wathon. Selain itu, pembangunan infrastruktur pertanian, seperti jalan usaha tani, jembatan besi, dan irigasi, juga menjadi prioritas untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

 

Pada tahun 2017, Ibrahim terpilih menjadi kepala desa. Di masanya, era Dana Desa dimulai, memberikan sumber pendanaan yang lebih besar bagi pembangunan desa. Ibrahim melanjutkan pembangunan infrastruktur, termasuk jalan usaha tani, serta membangun Balai Desa dan lapangan sepak bola untuk fasilitas publik. Namun, Ibrahim tidak dapat menyelesaikan masa jabatannya karena meninggal dunia pada 19 Desember 2021.

 

Setelah periode Ibrahim berakhir, Abdullah ditunjuk sebagai Penjabat Kepala Desa Tanjung Medan hingga Agustus 2023. Pada Agustus 2023, Desa Tanjung Medan mengikuti pemilihan kepala desa serentak tahun 2023, dan Syahru Romadhoni terpilih sebagai kepala desa terpilih periode ke-4. Sebelum pelantikan, pada bulan September hingga Oktober 2023, Desa Tanjung Medan dipimpin oleh Penjabat Kepala Desa Zulkarnaen, S,Sos.

 

Kini, di bawah kepemimpinan Syahru Romadhoni, Desa Tanjung Medan terus berbenah dan berupaya untuk mencapai kemajuan di berbagai bidang. Dengan visi "Mewujudkan Masyarakat Desa Tanjung Medan yang Terpenuhi Hak-Haknya sebagai Warga Negara, Sejahtera, dan Berdikari," semangat pembangunan terus berkobar di desa ini.

Sejarah Desa Tanjung Medan adalah cerminan semangat gotong royong, resilience, dan perjuangan tanpa lelah untuk mencapai kemajuan. Dari permukiman sederhana di tepi sungai hingga menjadi desa otonom yang berkembang pesat, Tanjung Medan telah menorehkan catatan sejarah yang inspiratif. Sejarah ini akan terus menjadi panduan bagi generasi penerus untuk membangun desa yang lebih baik di masa depan.

 

Berdasarkan keterangan di  atas yang bersumber dari para orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat dan catatan-catatan yang ada di Desa Tanjung Medan, dapat di susun yang pernah menjabat ataupun menjadi Kepala Desa Halangan sebagai berikut :

 

No

Nama

Jabatan

Kampung/Desa

Masa Bakti

1

Sabaru

Kepala Kampung

Kampung Pinang

-

2

Japamenan

Kepala Kampung

Kampung Pinang

-

3

Syafri Pungkut

Kepala Kampung

Kampung Pinang

-

4

Usman Mandailing

Kepala Desa

Kampung Pinang

1977 - 1987

5

Thamrin

Kepala Desa

Kampung Pinang

1987 - 1993

6

Nemi

Kepala Desa

Kampung Pinang

1993 - 2003

7

Nemi

Plt. Kepala Desa

Tanjung Medan

2024*

8

Amaluddin

Kepala Desa

Tanjung Medan

2005 - 2011

9

Amril Manda

Kepala Desa

Tanjung Medan

2011 - 2016

10

Ibrahim

Kepala Desa

Tanjung Medan

2017 - 2021

11

Abdullah

Pj Kepala Desa

Tanjung Medan

2022 - 2023

12

Zulkarnain, S.os

Pj Kepala Desa

Tanjung Medan

2023

13

Syahru Romadhoni

Kepala Desa

Tanjung Medan

2023 - Sekarang

*Tahun ketika Desa Tanjung Medan mekar

Tabel  Susunan Penjaba Kepala Kampung/Kepala Desa Tanjung Medan